Minggu, 26 September 2010

ALIRAN SENI LUKIS

Realisme
Realisme di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa unruk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun
Surrealisme
Lukisan dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya. Salah satu tokoh yang populer dalam aliran ini adalah Salvador Dali.

Kubisme
Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso.
Romantisme
Merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan.Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonial. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Raden Saleh.
Abstraksionisme
Adalah usaha untuk mengesampingkan unsur bentuk dari lukisan. Abstraksi berarti tindakan menghindari peniruan objek secara mentah. Unsur yang dianggap mampu memberikan sensasi keberadaan objek diperkuat untuk menggantikan unsur bentuk yang dikurangi porsinya
Ekspresionisme
Berusaha menampilkan emosional atau sensasi dari dalam di hubungkan dengan tragedi atau apa yang terjadi. Definisi lain adalah kebebasan distorsi bentuk dan warna untuk melahirkan emosi ataupun menyatakan sensasidari dalam (baik objeknya maupun senimannya).

Impresionisme
Berusaha menampilkan kesan yang di tangkap dari objek. Yang menjadi masalah dalam hal teknik adalah Sebagian kaum impresionis sangat mementingkan warna yang di timbulkan oleh bias cahaya,namun akdemisi mementingkan garis.
Fauvisme
Nama faufisme diberikan oleh seoramg kritikus bernama LouisVauxceles yang terkejut melihat liarnya sekelompok artis muda yang sedang berpameran di salon d’Automne, tahun 1905. Menurut matisse yang menjadi tokoh dalam aliran ini, Faufisme adalah suatu reaksi terhadap post impressionime yang mempunyai tekni yanglamban dan lambat, dan jugamempunyai teoridevision yang kurang tepat. Aliran ini masih di pengaruhi oleh teorinya cezane tentang impressionisme. Bahwa tatanan warna masih harus mempunyai struktur yang kuat, yang di bangun hubungan interaksi antara warna-warna tertentu. Faufisme masih memakai teori initetapi lebih di kembangkan lagi, ialahbahwa warna-warna itu jika diamati, kemudianharus di padatkan lagi dan di olah lagi. Disamping itu juga menentukan sikap bahwa tidak ada pendahuluan secara teoritis terhadap warnaagar coco untuk suatu pembentukan objek. Tokoh yang terkenal dlam aliran ini adalah Matisse.


Naturalisme
Seni lukis yang sangat mengandalkan skil atau ketrampilan tangan sehingga hasilnya terlihat alami, persis seperti fotografi berwarna.


Dadaisme
Ciri khas dari karya dadaisme adalah sini dan tidak mau ilusi atau ketiadaan ilusi. Yang kemudian diungkapkan dalam bentukmain-main, mistis, sesuatu yang menimbulkan goncangan jiwa yang mendadak,juga ada tanda-tanda merusak yang telah ada, sesuai dengan sifat lingkungan perang.

PRIMITIFISME
WALTER Spies meninggal 50 tahun lalu. Tak banyak orang tahu di mana persisnya ia mengembuskan napas terakhir. Tapi ia tahu benar di mana ia harus hidup. Walter Spies, seorang musikolog, pelukis, dan fotografer yang jatuh cinta pada Bali. Ia kemudian dikenal mempunyai peran besar dalam perkembangan kesenian Bali. Pekan ini Erasmus Huis Jakarta menyelenggarakan pameran mengenang tokoh tersebut. Di sini ditampilkan sejumlah lukisan, foto, partitur musik, dan coretan tulisan Walter Spies. Spies adalah seniman serba bisa yang lahir di Moskow tahun 1895 dari keluarga kaya Jerman. Ia tercatat berlayar ke Hindia Belanda pada tanggal 23 Agustus 1923. Mula-mula ia bermukim di Bandung sebagai pianis. Beberapa tahun kemudian ia bekerja sebagai pemimpin orkes keraton dengan 30 pemain di Keraton Yogya. Di kota ini ia mulai mempelajari musik tradisional. Pada tahun 1927 Spies mengunjungi Bali sebagai tamu Puri Punggawa Ubud. Ia terpukau dan sejak itu menetap di pulau ini. Di sini ia terjun ke berbagai sektor kesenian: tari, musik, dan seni rupa. Spies meninggalkan Bali karena pecah Perang Dunia. Dalam perjalanan menuju Sri Lanka, di perairan selat Sumatera, Januari 1942, sebuah pesawat tempur Jepang menenggelamkan kapal yang ditumpanginya. Pameran di Erasmus Huis itu sangat sederhana dibandingkan dengan acara sama, "Walter Spies Festival, an Evolution of Balinese Performing Art", di Bali beberapa tahun lalu, juga dalam rangka mengenangnya. Peluang yang sebenarnya bisa diketengahkan Eramus Huis adalah menggali konsep seni lukis Spies. Dari sini bisa dilihat bagaimana proses akulturasi dengan seni rupa Bali tradisional terjadi. Namun perkembangan lukisan Walter Spies justru tidak tergambar pada pameran itu. Lukisan yang ditampilkan, (reproduksi) misalnya Penggembala Suku Bashkiren Dengan Sekelompok Hewan, (1923) dan Peluncur-Peluncur di Es (1922), bukan lukisan yang bisa dengan nyata memperlihatkan kecenderungan seni lukisnya. Lukisan-lukisan Spies mengacu ke aliran primitifisme -- gaya seni lukis Eropa awal abad ke-20. Ciri gaya ini, lukisan bertema alam yang digambarkan dalam suasana mimpi yang serba gelap, dengan kekhasan: pembongkaran standar perspektif. Dalam primitifisme -- sesuai dengan pahamnya -- sering muncul gambaran suasana hutan, dunia binatang, dan citra manusia yang dianggap masih natural. Ini semacam idealisme yang tumbuh dari kekecewaan sekelompok pemikir terhadap keadaan dunia -- pada masa itu -- yang senantiasa diancam kemusnahan akibat peperangan. Spies seperti menemukan idealisme itu di Bali. "Saya tidak pernah berhenti lahir," tulisnya tentang ini. Dan lukisan-lukisan yang dibuatnya di Bali, selain menunjukkan tema dan objek Bali, dengan sangat kuat menunjukkan paham primitifisme. Secara kebetulan terdapat kemiripan antara persepsi gambar aliran primitifisme dan seni gambar tradisional Bali. Keduanya mengutamakan detail, menerapkan perspektif yang mengarah ke atas untuk menunjukkan jarak, dan, naif. Kesamaan itulah yang memungkinkan lahirnya persentuhan yang sebenarnya sulit dibayangkan. Tata acuan keduanya berbeda dalam menafsirkan kegiatan seni rupa. Pada masyarakat Bali, kepekaan seni tidak melahirkan kegiatan khusus yang harus diistimewakan. Tidak pula secara langsung berkaitan dengan pemikiran. Sedangkan tata acuan high art yang melatar belakangi seni lukis Walter Spies menempatkan ekspresi seni sebagai pernyataan yang sangat khusus. Dengan spirit primitifisme (yang memuja kejujuran "natural"), Spies menghargai prinsip-prinsip kesenian Bali. Adanya persamaan secara visual mengukuhkan keyakinannya tentang konsepsi seni lukis primitifisme. Dengan pandangan ini, ia terjun secara total ke dunia seni Bali. Melalui proses yang tidak sepenuhnya disadari, Spies merintis terjadinya alkulturasi. Ia memasukkan sikap berkesenian dari tata acuan seni rupa Barat ke alam pikiran masyarakat di Bali -- ekspresi bebas. Dalam dunia seni lukis, Spies mula-mula ®MDNM¯membangun pengaruh pada sejumlah seniman muda Bali, Anak Agung Gde Sobrat dan Anak Agung Gde Meregreg. Merekalah yang kemudian meletakkan dasar-dasar perkembangan seni lukis Bali. Seni gambar tradisional Bali, yang senantiasa mengambil tema dari epos Ramayana dan Mahabarata, bergeser menjadi seni lukis dengan tema alam dan kehidupan sehari-hari. Dalam dunia tari, Spies "membebaskan" tari kecak dari upacara keagamaan. Tarian ini menjadi ungkapan ekspresi, yang melibatkan penyusunan komposisi (blocking) dan pengolahan irama. Pada tahun 1935, Walter Spies bersama Rudolf Bonnet dan Cokorde Gde Agung Sukawati mendirikan perkumpulan "Pitha Maha." Selain mengupayakan material kertas, cat, dan kanvas, perkumpulan ini memberikan pula bimbingan. Pitha Maha, dan juga Spies, tidak bisa disangkal, mempunyai peran penting dalam perkembangan seni rupa Bali modern. Jim Supangkat dan S. Malela Mahargasarie

Pointilisme
Keindahan Dalarn Arti Luas Mernpakan Pengertian Semula Dari Bangsa Yunani Dulu Yang Didalamnya Tercakup Pula Kebaikan Plato Misalnya Menyebut Tentang Watak Yang Indahdan Hukum Yang Indah Sedang Aristoteles Merumuskan Keindahan Sebagi

Lukisan Dengan Aliran Ini Kebanyakan Menyerupai Bentukbentuk Yang Sering Ditemui Di Dalam Mimpi Pelukis Berusaha Untuk Mengabaikan Bentuk Secara Keseluruhan Kemudian Mengolah Setiap Bagian Tertentu Dari Objek Untuk Menghasilkan

Dalam Aliran Ini Mementingkan Eksperimen Dalam Berkesenian Agar Kebebasan Seniman Dalam Mengungkapkan Gagasan Berpijak Pada Hati Nurani 8 Pointilisme Adalah Gerakan Seni Rupa Yang Tampak Melukis Dengan Susunan Titiktitik

MISTIKISME
WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.
Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In­donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.
Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.
Asal Usul
Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.
Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.
Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe­wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.
Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur­nya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia, Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In­dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).
Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa­yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per­tunjukan wayang.
Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis­toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone­sia halaman 987.
Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa­yangan’, yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada.
Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata. Sejak saat itulah cerita­cerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.
Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.
Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.
Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.
Dan di wilayah Kulonprogo sendiri wayang masih sangatlah diminati oleh semua kalangan. Bukan hanya oleh orang tua saja, tapi juga anak remaja bahkan anak kecil juga telah biasa melihat pertunjukan wayang. Disamping itu wayang juga biasa di gunakan dalam acara-acara tertentu di daerah kulonprogo ini, baik di wilayah kota


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar